Selasa, 29 November 2011

Kerajaan Kediri ^^


KERAJAAN KEDIRI

Flashback :
Masa-masa awal Kerajaan Panjalu tidak banyak diketahui. Prasasti TURUN HYANG II (1044) yg diterbitkan Kerajaan Jangala hanya memberitakan tentang adanya perang saudara antara kedua Kerajaan sepeninggal Airlangga.
Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dg adanya prasasti SIRAH KETING (1104) atas nama SRI JAYAWARSA. Sebelum Sri Jayawarsa hanya SRI RAMAWIJAYA yang sudah diketahui dan sesudahnya diketahui secara jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan.
Kerajaan Panjalu dibawah pemerintahan SRI JAYABHAYA berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti NGANTANG (1135) yaitu Panjalu Jayati atau Panjalu menang. Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaan, wilayahnya meliputi Jawa dan beberapa pulau di Nusantara. bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Hal ini diperkuat dengan kronik Cina ling-wai-tai-ta karya Chou-ku-fei (1178), bahwa pada masa itu negeri yang paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab, JAWA, Sumatera. Saat itu yg berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, JAWA adalah kerajaan PANJALU. Sumatera dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya.

Kehidupan politik :
Lahirnya Kerajaan Kediri berkaitan dengan adanya pembagian kekuasaan di Kerajaan Medang Mataram pada tahun November 1041. Airlangga membagi kerajaan bertujuan untuk menghindari terjadinya perang saudara di Mataram. Setelah Mataram dibagi 2 oleh Mpu Bharada seorang Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya, muncullah Panjalu dan Janggala yang dibatasi gunung Kawi dan sungai Brantas. Kerajaan barat yg bernama Panjalu diberikan pada Samarawijaya (iparnya) yang berpusat di kota baru dengan ibukota Daha yang meliputi Kediri, Madiun sedangkan kerajaan timur yang bernama Janggala diberikan pada Mapanji Garasakan (anak keduanya) yang berpusat di kota lama yang meliputi daerah Malang dan delta sungai Bantas, dengan pelabuhan Surabaya, Rembang dan Pasuruan ibukotanya Kahuripan. Padahal airlangga telah mempersiapkan putra sulungnya sebagai penggantinya, tapi tidak bersedia dan lebih memilih menjadi petapa yg bergelar Dewi Kilisuli. Sumber sejarah yang menceritakan pembagian kerajaan ada dalam Prasasti WURARA ada juga yang menyebut dengan nama Prasasti MAHAKSUBYA (1289 M), Kitab NEGARAKERTAGAMA (1365 M), Kitab CALON ARANG (1540 M).


sekilas info :
 > Dalam SERAT CALON ARANG dijelaskan bahwa ‘sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kediri berdiri. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura yang berarti kota api tapi ini terdapat pada prasasti PAMWATAN yg dikeluarkan Airlangga tahun 1042.’ Saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.
> Menurut kitab NEGARAKERTAGAMA, sebelum dibelah menjadi 2, nama kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga sudah bernama Panjalu yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibukota Kerajaan Janggala.
Dalam perkembangan selanjutnya, ibukota Kerajaan Panjalu di Daha dipindahkan ke wilayah Kediri sehingga nama kerajaan lebih dikenal sebagai Kerajaan Kediri. Pada awalnya, nama Panjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kediri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh Raja-raja Kediri. Bahkan nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-Chia-Lung dalam kronik Cina yang berjudul Ling Wai Tai Ta (1178).
Sepeninggal Raja Airlangga dan selama kekuasaan Samarawijaya, Kerajaan Janggala dan Panjalu tidak pernah hidup berdampingan secara damai. Perebutan kekuasaan terus berlangsung hingga tahun 1042, Mapanji Garasakan dapat mengalahkan Samarawijaya. Diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042-1052 M) dalam Prasasti Malenga. Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu Garuda Mukha (Wisnu Naik Garuda). Namun Mapanji tidak lama memimpin Kerajaan. Tampuk pemerintahan lalu jatuh ditangan Raja Mapanji Alanjung Ahyes (1052-1059 M) dan kemudian digantikan lagi oleh Sri Maharaja Samarotsaha. Pertempuran yg terus menerus antara Janggala dan Panjalu menyebabkan selama kira* 60 tahun tidak ada berita yg jelas mengenai kedua Kerajaan tersebut hingga muncullah nama Raja Sri Maharaja Sri Bameswara (1116-1135 M) dari Kediri yg menggunakan lancana Candrakapale yaitu tengkorak yg bertaring diatas bulan sabit. Pada masa pemerintahannya banyak dihasilkan karya* sastra bahkan kiasan hidupnya yg dikenal dalam Cerita Panji. Bameswara diganti oleh Sri Maharaja Sri Jayabhaya (1135-1159 M) yg menggunakan lencana Kerajaan berupa lencana Narasingha yaitu setengah manusia setengah singa. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan dan juga banyak dihasilkan karya sastra terutama ramalannya tentang Indonesia antara lain akan datangnya Ratu Adil. Jayabhaya disebut sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Ketika ia berkuasa, pertentangan dg Janggala berakhir setelah ia dapat menguasai Kerajaan tersebut. Atas kemenangan tersebut ia memperingatinya dengan memerintahkan Mpu Sedah untuk menggubah Kakawin (syair) Bharatayudha  sebagai peringatan atas peperangan Kediri dan Janggala. Karena Mpu Sedah tidak sanggup menyelesaikan Kakawin tersebut, Mpu Panuluh melanjutkan dan menyelesaikannya pada tahun 1157 M. Jayabhaya juga terkenal akan ramalannya yang sering disebut Jangka Jayabhaya.
Meskipun demikian, kenyataannya 2 pujangga yg hidup sezaman dengan Prabu Jayabhaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh sama sekali tidak menyebut dalam ktab* mereka ( Kakawin Bharatayudha, Kakawin Hariwangsa, Kakawin Gatotkacasraya) bahwa Prabu Jayabhaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayudha hanya menceritakan peperangan antara Kediri dan Janggala. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang Prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negri Kundina, putri Bismaka. Rukmini sendiri adalah titisan dari Dewi Sri.

sekedar info J 
> Kakawin  Bharatayudha yg digubah oleh 2 pujangga Kediri merupakan kisah perang saudara yg diilhami kitab Mahabharata karangan Wyasa Kresna Dwaipayana, seorang pujangga India. Kitab tersebut mengisahkan perang perebutan takhta Kerajaan Hastinapura di antara keluarga Kurawa dan Pandawa yang dimenangkan oleh Pandawa.
> Ramalan Jayabhaya atau sering disebut dengan Jangka Jayabhaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yg salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabhaya, raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal pada khususnya dikalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal usul utama serat Jangka Jayabhaya dapat dilihat di kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keasliannya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabhaya-lah yg membuat ramalan* tersebut. Isinya :
1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran (kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda).
2. Prahu mlaku ing dhuwur awang* (perahu berjalan di angkasa)
3. Kali ilang kedhunge (sungai kehilangan mata air)

Sepeninggal Jayabhaya, Kerajaan Kediri dipimpin oleh Sareswara (1159-1169 M). tidak banyak yang diketahui mengenai raja ini sebab terbatasnya peninggalan yg ditemukan. Ia memakai lencana Kerajaan berupa Ganesha. Sepeninggal Sareswara, Kerajaan Kediri berurut-turut dipimpin oleh Aryyeswara, Kroncaryyadipa. Kemudian pemerintahan Kerajaan jatuh ditangan Raja Kameswara (1182-1185 M) selama beberapa waktu tidak ada berita yg jelas mengenai Raja Kediri hingga ia muncul. Masa pemerintahan ini ditulis dalam Kitab Kakawin Smaradhana oleh Mpu Darmaja yg berisi pemujaan terhadap raja, serta Kitab Lubdaka dan Wretasancaya yg ditulis oleh Mpu Tan Akung. Kitab Lubdaka bercerita tentang seorang pemburu yg akhirnya masuk surga dan Wretasancaya yg berisi petunjuk mempelajari tembang Jawa Kuno. Pada masa ini perkembangan karya sastra mencapai puncak kejayaannya. Beberapa karya sastra yang muncul selain yg disebut diatas antara lain Kitab Kresnayana, karya Mpu Triguna ; Kitab Sumanasantaka, karya Mpu Managuna. Selanjutnya pada tahun 1185-1222 M yang menjadi raja Kediri adalah Kertajaya dan raja terakhir kerajaan Kediri. Ia memakai lencana Garuda Mukha seperti Ria Airlangga, sayangnya ia kurang bijaksana, sehingga tidak disukai oleh rakyat terutama kaum Brahmana. Dalam masa pemerintahannya, terjadi pertentangan antara dirinya dan para Brahmana hal inilah akhirnya menjadi penyebab berakhirnya Kerajaan Kediri. Pertentangan itu disebabkan Kertajaya dianggap telah melanggar adat dan memaksa kaum brahmana menyembahnya sebagai Dewa. Para Brahmana kemudian meminta perlindungan pada Ken Arok di Singosari. Kebetulan Ken Arok juga berkeinginan memerdekakan Tumapel (Singosari) yg dulunya merupakan bawahan Kediri. Tahun 1222 pecahlah pertempuran antara prajurit Kertajaya dan pasukan Ken Arok  di desa Ganter. Dalam peperangan ini, pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan prajurit Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kediri, yg sejak saat itu menjadi bawahan Kerajaan Singosari. Runtuhnya kerajan Panjalu-Kediri pada masa pemerintahan Kertajaya dikisahkan dalam Kitab Pararaton dan Kitab Negarakertagama.
Setelah Ken Arok mengangkat Kertajaya, Kediri menjadi suatu wilayah dibawah kekuasaan Kerajaan Singosari. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai Bupati Kediri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan oleh putranya , yaitu Jayakatwang. Tahun 1292 Jayakatwang menjadi bupati geleng-geleng. Selama menjadi bupati, Jayakatwang memberontak terhadap Singosari yg dipimpin oleh Kertanegara, karena dendam di masa lalu dimana leluhurnya yaitu Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kediri, namun hanya bertahan satu tahun. Hal itu terjadi karena adanya serangan gabungan yg dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.


RAJA-RAJA yang BERKUASA SAAT DAHA jadi IBUKOTA PANJALU
1.         SRI SAMARAWIJAYA , putra airlangga > prasasti PAMWATAN (1042).
2.      SRI JAYASWARA > prasasti SIRAH KETING (1104) , {tidak diketahui lgsg ia adlh pengganti langsung sri samarawijaya}.
3.      SRI BAMESWARA > prasasti PADELEGAN I (1117) , prasasti PANUMBANGAN (1120) , prasasti TANGKILAN (1130).
4.      SRI JAYABHAYA ,  raja terbesar panjalu > prasasti NGANTANG (1135) , KAKAWIN BHARATAYUDHA (1157).
5.      SRI SARESWARA > PADELEGAN II (1159), prasasti KAHYUNAN (1161).
6.      SRI ARYESWARA > prasasti ANGIN (1171).
7.       SRI GANDRA > prasasti JARING (1181).
8.      SRI KAMESWARA > prasasti CEKER (1182) , KAKAWIN SMARADHANA
9.    KERTAJAYA > prasasti GALUNGGUNG (1194) , prasasti KAMULAN (1194), prasasti PALAH (1197), prasasti WATESKULON (1205) , NEGARAKERTAGAMA , PARARATON
KEHIDUPAN EKONOMI ^^
Kediri merupakan Kerajaan agraris maritim. Perekonomian Kediri bersumber atas usaha perdagangan, peternakan dan pertanian untuk masyarakat yg hidup di daerah pedalaman. Sedangkan yg berada di pesisir hidupnya bergantung dari perdagangan dan pelayaran. Mereka telah mengadakan hubungan dagang dg Maluku dan Sriwijaya. Kediri terkenal sbg penghasil beras, kapas dan ulat sutra. Kerajaan Kediri cukup makmur, hal ini terlihat pada kemampuan Kerajaan yg memberikan penghasilan tetap pada para pegawainya walaupun hanya dibayar dg hasil bumi. Keterangan tersebut berdasarkan kitab Chi-fan-Chi  (1225) karya Chau Ju-kua mengatakan bahwan Su-ki-tan yg merupakan bagian dari She-po(Jawa) telah memiliki daerah taklukkan. Para ahli memperkirakan Su-ki-tan adalah sebuah Kerajaan yg berada di Jawa Timur, dan yg tak lain dan tak bukan adalah Kerajaan Kediri. Mungkin juga Su-ki-tan  sebagai kota pelabuhan yg telah dikenal para pedagang dari luar negeri, termasuk Cina.
Pemerintahannya sangat memperhatikan keadaan rakyatnya sehingga pertanian, perdagangan dan peternakan mengalami kemajuan yg cukup pesat.
Golongan dalam masyarakat Kediri dibedakan menjadi tiga berdasarkan kedudukan dalam pemerintahan kerajaan, yaitu :
a.       Golongan masyarakat pusat(kerajaan) : masyarakat yg terdapat dalam lingkungan raja dan beberapa kaum kerabatnya serta kelompok pelayannya.
b.       Golongan masyarakat tani (daerah) : golongan masyarakat yg terdiri atas para pejabat atau petugas pemerintahan di wilayah tani (daerah).
c.       Golongan masyarakat nonpemerintah : golongan masyarakat yg tidak mempunyai kedudukan dan hubungan dg pemerintahan secara resmi atau masyarakat wiraswasta.
Kediri memiliki 300 lebih pejabat yg mencatat dan mengurus semua penghasilan Kerajaan. Disamping itu ada 1000 pegawai rendahan yg bertugas mengurusi benteng dan parit kota serta gedung persediaan makanan.

KEHIDUPAN  SOSIAL ^^
Kehidupan sosial masyarakat Kediri cukup baik karena kesejahteraan rakyat meningkat, masyarakat hidup tenang. Dalam kitab Ling-wai-tai-ta (1178) karya Chou-Ku-fei yg menerangkan bahwa orang* Kediri memakai kain sampai lutut, rambutnya di urai, rumah* telah teratur dan bersih, lantai ubinnya berwarna hijau dan kuning. Pertanian dan perdagangan telah maju, orang* yg salah didenda dg emas. Pencuri dan perampok dibunuh, telah digunakan mata uang perak, orang sakit tidak menggunakan obat tapi memohon kesembuhan pada Dewa atau kepada Buddha. Tiap bulan ke-5 diadakan pesta air, alat musik yg digunakan berupa seruling, gendang, dan gambang dr kayu. Dengan kehidupan masyarakatnya yg aman dan damai maka seni dapat berkembang antara lain kesusastraan yg paling maju adalah seni sastra terutama Jawa kuno. Namun, karya* sastra pada masa Kerajaan Kediri kurang mengungkap keadaan pemerintahan dan masyarakat pada zamannya. Pada masa Kameswara perkembangan karya sastra mencapai puncak kejayaannya.
SUMBER*  PRASASTI :
Prasasti* yg menjelaskan tentang Kerajaan Kediri antara lain , yaitu :
a.       Prasasti BANJARAN berangka tahun 1052 M menjelaskan kemenangan Panjalu atas Janggala.
b.       Prasasti HANTANG berangka tahun 1052 M menjelaskan Panjalu pada masa Jayabhaya.
Selain dari prasasti* tersebut, ada lagi prasasti yg lain tetapi tidak begitu jelas. Dan yg banyak menjelaskan tentang Kerajaan Kediri adalah hasil karya berupa kitab sastra seperti kitab Kakawin Bharatayudha yg ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yg menceritakan tentang kemenangan Kediri (Panjalu) atas Janggala.
Kronik Cina juga banyak memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat dan pemerintahan Kediri yg tidak ditemukan dari sumber lain. Berita tersebut disusun melalui kitab yg berjudul Ling-mai-tai-t yg ditulis oleh Choi-ku-fei tahun 1178 M dan kitab Chi-fan-Chi yg ditulis oleh Chau-ju-kua tahun 1225 M.
Dan di era 2000-an terdapat penemuan situs tondowongso tepatnya awal tahun 2007 yg diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kediri.
Dalam perkembangan politiknya wilayah kekuasaan Kediri masih sama seperti kekuasaan Raja Airlangga, dan raja-rajanya banyak yg dikenal dalam sejarah karena memiliki lencana atau lambang tersendiri.
Semua peninggalan sejarah* tersebut diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak tentang perkembangan Kerajaan Kediri dalam berbagai aspek kehidupan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Selasa, 29 November 2011

Kerajaan Kediri ^^

Diposkan oleh -gmaknaey- di 21.18

KERAJAAN KEDIRI

Flashback :
Masa-masa awal Kerajaan Panjalu tidak banyak diketahui. Prasasti TURUN HYANG II (1044) yg diterbitkan Kerajaan Jangala hanya memberitakan tentang adanya perang saudara antara kedua Kerajaan sepeninggal Airlangga.
Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dg adanya prasasti SIRAH KETING (1104) atas nama SRI JAYAWARSA. Sebelum Sri Jayawarsa hanya SRI RAMAWIJAYA yang sudah diketahui dan sesudahnya diketahui secara jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan.
Kerajaan Panjalu dibawah pemerintahan SRI JAYABHAYA berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti NGANTANG (1135) yaitu Panjalu Jayati atau Panjalu menang. Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaan, wilayahnya meliputi Jawa dan beberapa pulau di Nusantara. bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Hal ini diperkuat dengan kronik Cina ling-wai-tai-ta karya Chou-ku-fei (1178), bahwa pada masa itu negeri yang paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab, JAWA, Sumatera. Saat itu yg berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, JAWA adalah kerajaan PANJALU. Sumatera dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya.

Kehidupan politik :
Lahirnya Kerajaan Kediri berkaitan dengan adanya pembagian kekuasaan di Kerajaan Medang Mataram pada tahun November 1041. Airlangga membagi kerajaan bertujuan untuk menghindari terjadinya perang saudara di Mataram. Setelah Mataram dibagi 2 oleh Mpu Bharada seorang Brahmana yang terkenal akan kesaktiannya, muncullah Panjalu dan Janggala yang dibatasi gunung Kawi dan sungai Brantas. Kerajaan barat yg bernama Panjalu diberikan pada Samarawijaya (iparnya) yang berpusat di kota baru dengan ibukota Daha yang meliputi Kediri, Madiun sedangkan kerajaan timur yang bernama Janggala diberikan pada Mapanji Garasakan (anak keduanya) yang berpusat di kota lama yang meliputi daerah Malang dan delta sungai Bantas, dengan pelabuhan Surabaya, Rembang dan Pasuruan ibukotanya Kahuripan. Padahal airlangga telah mempersiapkan putra sulungnya sebagai penggantinya, tapi tidak bersedia dan lebih memilih menjadi petapa yg bergelar Dewi Kilisuli. Sumber sejarah yang menceritakan pembagian kerajaan ada dalam Prasasti WURARA ada juga yang menyebut dengan nama Prasasti MAHAKSUBYA (1289 M), Kitab NEGARAKERTAGAMA (1365 M), Kitab CALON ARANG (1540 M).


sekilas info :
 > Dalam SERAT CALON ARANG dijelaskan bahwa ‘sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kediri berdiri. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura yang berarti kota api tapi ini terdapat pada prasasti PAMWATAN yg dikeluarkan Airlangga tahun 1042.’ Saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.
> Menurut kitab NEGARAKERTAGAMA, sebelum dibelah menjadi 2, nama kerajaan yang dipimpin oleh Airlangga sudah bernama Panjalu yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibukota Kerajaan Janggala.
Dalam perkembangan selanjutnya, ibukota Kerajaan Panjalu di Daha dipindahkan ke wilayah Kediri sehingga nama kerajaan lebih dikenal sebagai Kerajaan Kediri. Pada awalnya, nama Panjalu memang lebih sering dipakai daripada nama Kediri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh Raja-raja Kediri. Bahkan nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-Chia-Lung dalam kronik Cina yang berjudul Ling Wai Tai Ta (1178).
Sepeninggal Raja Airlangga dan selama kekuasaan Samarawijaya, Kerajaan Janggala dan Panjalu tidak pernah hidup berdampingan secara damai. Perebutan kekuasaan terus berlangsung hingga tahun 1042, Mapanji Garasakan dapat mengalahkan Samarawijaya. Diabadikanlah nama Raja Mapanji Garasakan (1042-1052 M) dalam Prasasti Malenga. Ia tetap memakai lambang Kerajaan Airlangga, yaitu Garuda Mukha (Wisnu Naik Garuda). Namun Mapanji tidak lama memimpin Kerajaan. Tampuk pemerintahan lalu jatuh ditangan Raja Mapanji Alanjung Ahyes (1052-1059 M) dan kemudian digantikan lagi oleh Sri Maharaja Samarotsaha. Pertempuran yg terus menerus antara Janggala dan Panjalu menyebabkan selama kira* 60 tahun tidak ada berita yg jelas mengenai kedua Kerajaan tersebut hingga muncullah nama Raja Sri Maharaja Sri Bameswara (1116-1135 M) dari Kediri yg menggunakan lancana Candrakapale yaitu tengkorak yg bertaring diatas bulan sabit. Pada masa pemerintahannya banyak dihasilkan karya* sastra bahkan kiasan hidupnya yg dikenal dalam Cerita Panji. Bameswara diganti oleh Sri Maharaja Sri Jayabhaya (1135-1159 M) yg menggunakan lencana Kerajaan berupa lencana Narasingha yaitu setengah manusia setengah singa. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan dan juga banyak dihasilkan karya sastra terutama ramalannya tentang Indonesia antara lain akan datangnya Ratu Adil. Jayabhaya disebut sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Ketika ia berkuasa, pertentangan dg Janggala berakhir setelah ia dapat menguasai Kerajaan tersebut. Atas kemenangan tersebut ia memperingatinya dengan memerintahkan Mpu Sedah untuk menggubah Kakawin (syair) Bharatayudha  sebagai peringatan atas peperangan Kediri dan Janggala. Karena Mpu Sedah tidak sanggup menyelesaikan Kakawin tersebut, Mpu Panuluh melanjutkan dan menyelesaikannya pada tahun 1157 M. Jayabhaya juga terkenal akan ramalannya yang sering disebut Jangka Jayabhaya.
Meskipun demikian, kenyataannya 2 pujangga yg hidup sezaman dengan Prabu Jayabhaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh sama sekali tidak menyebut dalam ktab* mereka ( Kakawin Bharatayudha, Kakawin Hariwangsa, Kakawin Gatotkacasraya) bahwa Prabu Jayabhaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayudha hanya menceritakan peperangan antara Kediri dan Janggala. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang Prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negri Kundina, putri Bismaka. Rukmini sendiri adalah titisan dari Dewi Sri.

sekedar info J 
> Kakawin  Bharatayudha yg digubah oleh 2 pujangga Kediri merupakan kisah perang saudara yg diilhami kitab Mahabharata karangan Wyasa Kresna Dwaipayana, seorang pujangga India. Kitab tersebut mengisahkan perang perebutan takhta Kerajaan Hastinapura di antara keluarga Kurawa dan Pandawa yang dimenangkan oleh Pandawa.
> Ramalan Jayabhaya atau sering disebut dengan Jangka Jayabhaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yg salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabhaya, raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal pada khususnya dikalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal usul utama serat Jangka Jayabhaya dapat dilihat di kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keasliannya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabhaya-lah yg membuat ramalan* tersebut. Isinya :
1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran (kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda).
2. Prahu mlaku ing dhuwur awang* (perahu berjalan di angkasa)
3. Kali ilang kedhunge (sungai kehilangan mata air)

Sepeninggal Jayabhaya, Kerajaan Kediri dipimpin oleh Sareswara (1159-1169 M). tidak banyak yang diketahui mengenai raja ini sebab terbatasnya peninggalan yg ditemukan. Ia memakai lencana Kerajaan berupa Ganesha. Sepeninggal Sareswara, Kerajaan Kediri berurut-turut dipimpin oleh Aryyeswara, Kroncaryyadipa. Kemudian pemerintahan Kerajaan jatuh ditangan Raja Kameswara (1182-1185 M) selama beberapa waktu tidak ada berita yg jelas mengenai Raja Kediri hingga ia muncul. Masa pemerintahan ini ditulis dalam Kitab Kakawin Smaradhana oleh Mpu Darmaja yg berisi pemujaan terhadap raja, serta Kitab Lubdaka dan Wretasancaya yg ditulis oleh Mpu Tan Akung. Kitab Lubdaka bercerita tentang seorang pemburu yg akhirnya masuk surga dan Wretasancaya yg berisi petunjuk mempelajari tembang Jawa Kuno. Pada masa ini perkembangan karya sastra mencapai puncak kejayaannya. Beberapa karya sastra yang muncul selain yg disebut diatas antara lain Kitab Kresnayana, karya Mpu Triguna ; Kitab Sumanasantaka, karya Mpu Managuna. Selanjutnya pada tahun 1185-1222 M yang menjadi raja Kediri adalah Kertajaya dan raja terakhir kerajaan Kediri. Ia memakai lencana Garuda Mukha seperti Ria Airlangga, sayangnya ia kurang bijaksana, sehingga tidak disukai oleh rakyat terutama kaum Brahmana. Dalam masa pemerintahannya, terjadi pertentangan antara dirinya dan para Brahmana hal inilah akhirnya menjadi penyebab berakhirnya Kerajaan Kediri. Pertentangan itu disebabkan Kertajaya dianggap telah melanggar adat dan memaksa kaum brahmana menyembahnya sebagai Dewa. Para Brahmana kemudian meminta perlindungan pada Ken Arok di Singosari. Kebetulan Ken Arok juga berkeinginan memerdekakan Tumapel (Singosari) yg dulunya merupakan bawahan Kediri. Tahun 1222 pecahlah pertempuran antara prajurit Kertajaya dan pasukan Ken Arok  di desa Ganter. Dalam peperangan ini, pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan prajurit Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kediri, yg sejak saat itu menjadi bawahan Kerajaan Singosari. Runtuhnya kerajan Panjalu-Kediri pada masa pemerintahan Kertajaya dikisahkan dalam Kitab Pararaton dan Kitab Negarakertagama.
Setelah Ken Arok mengangkat Kertajaya, Kediri menjadi suatu wilayah dibawah kekuasaan Kerajaan Singosari. Ken Arok mengangkat Jayasabha, putra Kertajaya sebagai Bupati Kediri. Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan oleh putranya , yaitu Jayakatwang. Tahun 1292 Jayakatwang menjadi bupati geleng-geleng. Selama menjadi bupati, Jayakatwang memberontak terhadap Singosari yg dipimpin oleh Kertanegara, karena dendam di masa lalu dimana leluhurnya yaitu Kertajaya dikalahkan oleh Ken Arok. Setelah berhasil membunuh Kertanegara, Jayakatwang membangun kembali Kerajaan Kediri, namun hanya bertahan satu tahun. Hal itu terjadi karena adanya serangan gabungan yg dilancarkan oleh pasukan Mongol dan pasukan menantu Kertanegara, Raden Wijaya.


RAJA-RAJA yang BERKUASA SAAT DAHA jadi IBUKOTA PANJALU
1.         SRI SAMARAWIJAYA , putra airlangga > prasasti PAMWATAN (1042).
2.      SRI JAYASWARA > prasasti SIRAH KETING (1104) , {tidak diketahui lgsg ia adlh pengganti langsung sri samarawijaya}.
3.      SRI BAMESWARA > prasasti PADELEGAN I (1117) , prasasti PANUMBANGAN (1120) , prasasti TANGKILAN (1130).
4.      SRI JAYABHAYA ,  raja terbesar panjalu > prasasti NGANTANG (1135) , KAKAWIN BHARATAYUDHA (1157).
5.      SRI SARESWARA > PADELEGAN II (1159), prasasti KAHYUNAN (1161).
6.      SRI ARYESWARA > prasasti ANGIN (1171).
7.       SRI GANDRA > prasasti JARING (1181).
8.      SRI KAMESWARA > prasasti CEKER (1182) , KAKAWIN SMARADHANA
9.    KERTAJAYA > prasasti GALUNGGUNG (1194) , prasasti KAMULAN (1194), prasasti PALAH (1197), prasasti WATESKULON (1205) , NEGARAKERTAGAMA , PARARATON
KEHIDUPAN EKONOMI ^^
Kediri merupakan Kerajaan agraris maritim. Perekonomian Kediri bersumber atas usaha perdagangan, peternakan dan pertanian untuk masyarakat yg hidup di daerah pedalaman. Sedangkan yg berada di pesisir hidupnya bergantung dari perdagangan dan pelayaran. Mereka telah mengadakan hubungan dagang dg Maluku dan Sriwijaya. Kediri terkenal sbg penghasil beras, kapas dan ulat sutra. Kerajaan Kediri cukup makmur, hal ini terlihat pada kemampuan Kerajaan yg memberikan penghasilan tetap pada para pegawainya walaupun hanya dibayar dg hasil bumi. Keterangan tersebut berdasarkan kitab Chi-fan-Chi  (1225) karya Chau Ju-kua mengatakan bahwan Su-ki-tan yg merupakan bagian dari She-po(Jawa) telah memiliki daerah taklukkan. Para ahli memperkirakan Su-ki-tan adalah sebuah Kerajaan yg berada di Jawa Timur, dan yg tak lain dan tak bukan adalah Kerajaan Kediri. Mungkin juga Su-ki-tan  sebagai kota pelabuhan yg telah dikenal para pedagang dari luar negeri, termasuk Cina.
Pemerintahannya sangat memperhatikan keadaan rakyatnya sehingga pertanian, perdagangan dan peternakan mengalami kemajuan yg cukup pesat.
Golongan dalam masyarakat Kediri dibedakan menjadi tiga berdasarkan kedudukan dalam pemerintahan kerajaan, yaitu :
a.       Golongan masyarakat pusat(kerajaan) : masyarakat yg terdapat dalam lingkungan raja dan beberapa kaum kerabatnya serta kelompok pelayannya.
b.       Golongan masyarakat tani (daerah) : golongan masyarakat yg terdiri atas para pejabat atau petugas pemerintahan di wilayah tani (daerah).
c.       Golongan masyarakat nonpemerintah : golongan masyarakat yg tidak mempunyai kedudukan dan hubungan dg pemerintahan secara resmi atau masyarakat wiraswasta.
Kediri memiliki 300 lebih pejabat yg mencatat dan mengurus semua penghasilan Kerajaan. Disamping itu ada 1000 pegawai rendahan yg bertugas mengurusi benteng dan parit kota serta gedung persediaan makanan.

KEHIDUPAN  SOSIAL ^^
Kehidupan sosial masyarakat Kediri cukup baik karena kesejahteraan rakyat meningkat, masyarakat hidup tenang. Dalam kitab Ling-wai-tai-ta (1178) karya Chou-Ku-fei yg menerangkan bahwa orang* Kediri memakai kain sampai lutut, rambutnya di urai, rumah* telah teratur dan bersih, lantai ubinnya berwarna hijau dan kuning. Pertanian dan perdagangan telah maju, orang* yg salah didenda dg emas. Pencuri dan perampok dibunuh, telah digunakan mata uang perak, orang sakit tidak menggunakan obat tapi memohon kesembuhan pada Dewa atau kepada Buddha. Tiap bulan ke-5 diadakan pesta air, alat musik yg digunakan berupa seruling, gendang, dan gambang dr kayu. Dengan kehidupan masyarakatnya yg aman dan damai maka seni dapat berkembang antara lain kesusastraan yg paling maju adalah seni sastra terutama Jawa kuno. Namun, karya* sastra pada masa Kerajaan Kediri kurang mengungkap keadaan pemerintahan dan masyarakat pada zamannya. Pada masa Kameswara perkembangan karya sastra mencapai puncak kejayaannya.
SUMBER*  PRASASTI :
Prasasti* yg menjelaskan tentang Kerajaan Kediri antara lain , yaitu :
a.       Prasasti BANJARAN berangka tahun 1052 M menjelaskan kemenangan Panjalu atas Janggala.
b.       Prasasti HANTANG berangka tahun 1052 M menjelaskan Panjalu pada masa Jayabhaya.
Selain dari prasasti* tersebut, ada lagi prasasti yg lain tetapi tidak begitu jelas. Dan yg banyak menjelaskan tentang Kerajaan Kediri adalah hasil karya berupa kitab sastra seperti kitab Kakawin Bharatayudha yg ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yg menceritakan tentang kemenangan Kediri (Panjalu) atas Janggala.
Kronik Cina juga banyak memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat dan pemerintahan Kediri yg tidak ditemukan dari sumber lain. Berita tersebut disusun melalui kitab yg berjudul Ling-mai-tai-t yg ditulis oleh Choi-ku-fei tahun 1178 M dan kitab Chi-fan-Chi yg ditulis oleh Chau-ju-kua tahun 1225 M.
Dan di era 2000-an terdapat penemuan situs tondowongso tepatnya awal tahun 2007 yg diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kediri.
Dalam perkembangan politiknya wilayah kekuasaan Kediri masih sama seperti kekuasaan Raja Airlangga, dan raja-rajanya banyak yg dikenal dalam sejarah karena memiliki lencana atau lambang tersendiri.
Semua peninggalan sejarah* tersebut diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak tentang perkembangan Kerajaan Kediri dalam berbagai aspek kehidupan.

0 komentar on "Kerajaan Kediri ^^"

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates